Rabu, Maret 25, 2009

Geograpic Information System


SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)
GEOGRAPIC INFORMATION SYSTEN (GIS)


Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah Sistem informasi yang mengelola data yang memiliki informasi spasial atau bereferensi keruangan. Atau dapat juga dipahami sebagai Sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi bereferensi geografis dalam sebuah database.

Data GIS dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu data dan data atribut atau data tabular. Data grafis adalah data yang menggambarkan bentuk atau kenampakan objek di permukaan bumi. Sedangkan data tabular adalah data deskriptif yang menyatakan nilai dari data grafis tersebut.

Beberapa Penerapan GIS dapat adalah sebagai berikut.

  • Dalam Bidang Pemasaran seperti Distribusi Produk , Bisnis Eceran, Pusat Layanan Bisnis, Bisnis Kecil
  • Peta Lokasi (Location Maps), seperti Peta Kawasan Wisata, Peta Wilayah, Peta Jalur Mudik, dll
  • Telekomunikasi ,yang meliputi: Fasilitas dan pemetaan kawasan, Rute penempatan kabel
  • Manajemen Prasarana Transportasi : Jalan, jalur kereta api, fasilitas pelabuhan, Lingkungan dan Geologi
  • Pariwisata
  • Dll.

Sebagai sistem yang memiliki kegunaan yang sangat luas, perlu banyak pemahaman program aplikasi lain sebagai penunjang. Beberapa program yang pendukung aplikasi SIG diantaranya :

  • CAD (AutoCAD Map, Land Development, dll)
  • Arcview, Arc Info, Arc Explorer, ArcGIS
  • Database (Ms. excel, Ms. Acces, dll)
  • Map Info

Aplikasi Pengolah Image (Photoshop, Corel, dll)

Sedangkan secara keilmuan perlu dipahami beberapa ilmu tentang pengukuran rupa bumi (geodesi), Sistem koordinat geografis, kartografi, penginderaan jauh, dll.


PETA SEBAGAI BAGIAN DARI
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS


Pengertian Peta
Peta adalah gambaran dari sebagian atau keseluruhan permukaan bumi dengan system proyeksi dan skala tertentu.

Jenis-jenis peta

Peta garis
Adalah peta yang menyajikan detail planimetris maupun ketinggian dalam bentuk garis dan symbol-simbol. Detail yang disajikan dipilih (generalisasi) sesuai engan skalanya dan kontur digambar dengan interval tertentu.

Peta Foto
Adalah peta yang disajikan dalam bentuk foto yang telah direktifikasi sedemikian rupa sehingga skalanya seragam. Peta foto dapat berupa hanya foto, dapat pula ditumpangtindihkan dengan detail seperti peta garis

Peta Digital
Adalah peta dalam bentuk data digital, baik dalam bentuk data vector, raster, atau kombinasi keduanya. Sedangkan berdasarkan fungsinya peta digital dibagi menjadi dua yaitu peta topografi yang menyajikan informasi topografi yang panimetris secara lengkap sesuai dengan skalanya dan peta tematik, yaitu peta yang hanya menyajikan detail atau data tertentu sesuai dengan keperluanyya.

Kartografi
Adalah ilmu dan seni pembuatan peta, agar peta selain informative, juga kelihatan indah. Beberapa hal pokok tentang aturan kartografi antara lain Muka peta dan informasi tepi, Skala peta, Proyeksi peta dan system koordinat dan penggambaran detail yang perlu dotonjolkan.



Disusun dari berbagai Sumber

Rabu, Maret 18, 2009

Energy

HOW THE GENERATOR WORKS

The turbine is attached by a shaft to the turbogenerator. The generator has a long, coiled wire on its shaft surrounded by a giant magnet. You can see the inside of the generator coil with all its wires in the picture on the right.
The shaft that comes out of the turbine is connected to the generator. When the turbine turns, the shaft and rotor is turned. As the shaft inside the generator turns, an electric current is produced in the wire. The electric generator is converting mechanical, moving energy into electrical energy.
The generator is based on the principle of "electromagnetic induction" discovered in 1831 by Michael Faraday, a British scientist. Faraday discovered that if an electric conductor, like a copper wire, is moved through a magnetic field, electric current will flow (or "be induced") in the conductor. So the mechanical energy of the moving wire is converted into the electric energy of the current that flows in the wire.
The electricity produced by the generator then flows through huge transmission wires that link the power plants to our homes, school and businesses.
All power plants have turbines and generators. Some turbines are turned by wind, some by water, some by steam.


Sumber : www.energy.state.ca.us.

Alternatif Sumber Energi Listrik

Kincir Angin (Wind Turbine)


Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki beberapa pantai dan dataran tinggi yang berpotensi untuk dibuatnya pembangkit listrik tenaga angin.

Berikut ini saya tampilkan beberapa gambar yang saya ambil di situs www.wind power.org.



Selasa, Maret 17, 2009

Investasi Pedesaaan

INVESTASI PEMBANGUNAN PERDESAAN
DI KABUPATEN BREBES


A. Pendahuluan

Belum teratasinya masalah kemiskinan mendorong pemikiran akan perlunya suatu strategi baru penanggulangan kemiskinan yang lebih menyentuh akar permasalahan kemiskinan. Pandangan konvensional menyebutkan kemiskinan sebagai masalah kekurangan modal dan menganggap masyarakat miskin sebagai objek yang tidak memiliki informasi dan pilihan sehingga tidak perlu terlibat dalam pengambilan keputusan kebijakan public. Implikasi dari pandangan ini adalah pemerintah mempunyai peran dominan untuk menyediakan modal dan kebutuhan dasar masyarakat miskin. Pendekatan ini terbukti kurang optimal dalam memecahkan masalah kemiskinan bukan hanya disebabkan oleh kesulitan anggaran dan lemahnya rancangan kebijakan karena tidak menyentuh akar masalah kemiskinan, tetapi juga tidak adanya pengakuan dan penghormatan atas suara dan hak-hak masyarakat miskin.

Dalam mengurangi kemiskinan, harus ditinjau bahwa kemiskinan sebagai masalah multidimensi. Kemiskinan bukan hanya diukur dari pendapatan, tetapi juga mencakup kerentanan dan kerawanan orang atau sekelompok orang baik laki-laki maupun perempuan untuk mejadi miskin, dan keterbatasan akses masyarakat miskin dalam penentuan kebijakan public yang berdampak pada kehidupan mereka. Oleh sebab itu, pemecahan masalah kemiskinan tidak lagi dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri melalui berbagai kebijakan sektoral yang terpusat, seragam dan berjangka pendek. Pemecahan masalah kemiskinan perlu didasarkan pada pemahaman suara masyarakat miskin itu sendiri dan adanya penghormatan, perlindungan dan pemenuhan terhadap hak-hak dasar mereka, yaitu hak social, budaya, ekonomi dan politik.


B. Pendekatan

Pendekatan umum yang digunakan bertujuan untuk menelaah kondisi/karakteristik wilayah untuk mengetahui potensi dan masalah yang ada guna mengetahui kecenderungan perkembangan maupun interaksinya dengan wilayah sekitar. Selain itu kajian tentang tata ruang yang ada juga mutlak dilakukan agar diketahui penyimpangan maupun arah kecenderungan yang tidak sesuai dengan yang telah digariskan, maka metode pendekatan yang dilakukan adalah:
1. Prinsip Spatial, pendekatan ini mutlak dilakukan dalam mensinkronisasikan kebutuhan ruang untuk menampung kegiatan dimasa yang akan datang, aksesibilitas beserta sarana dan prasarananya dalam menunjang kegiatan interaksi dengan wilayah sekitar serta mengantisipasi kebutuhan prasarana penunjang wilayah dimasa yang akan datang juga mutlak dilakukan. Tinjauan ini meliputi beberapa aspek:
a. Perubahan strukur ruang dan pusat pelayanan.
b. Hubungan keterkaitan dengan Kabupaten dan wilayah lain (Hinterland).
c. Hubungan keterkaitan antar ruang dan wilayah (Forward Linkage).
d. Sistem perhubungan yang membentuk struktur ruang.
2. Prinsip Proses Bottom Up Planning, hal ini dilakukan dalam rangka mendukung proses ekonomi daerah, dimana pada masa lalu kegiatan penataan ruang dilakukan atas kebijaksanaan dari pemerintah pusat tanpa melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat maupun lembaga-lembaga kemasyarakatan didaerah sehingga kebutuhan daerah maupun keinginan masyarakat tidak kurang tertampung dan terwakili.
3. Prinsip Regional, suatu prinsip pendekatan wilayah yang memandang wilayah sebagai suatu sistem. Keseluruhan unsur pembentuk wilayah yang meliputi sumber daya alam, sumber daya buatan dan manusia beserta kegiatannya yang meliputi politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan daerah yang berinteraksi membentuk suatu wujud ruang. Pemahaman terhadap peran dan kedudukan Kabupaten Brebes dalam lingkup yang lebih luas yang ada serta interaksinya dengan wilayah sekitar dapat dilakukan melalui penelaahan terhadap kebijakan-kebijakan yang ada.
4. Prinsip Strategis, merupakan pendekatan yang menyangkut tentang fungsi kawasan, peran kawasan atau daerah serta ketersediaan sarana dan prasarana dalam mendukung interaksi antar wilayah.
5. Prinsip Ekonomi, hal ini merupakan pendekatan terhadap aspek perekonomian dalam upaya peningkatan efesiensi dan efektivitas penggunaan potensi-potensi yang dimiliki suatu daerah, pada pendekatan ini kajian terhadap sumber pendapatan masyarakat, sumber pendapatan daerah, serta penanaman modal asing, serta daerah berikut sumber daya alam mutlak dilakukan.
6. Prinsip Sosial Budaya, merupakan suatu prinsip pendekatan kemasyarakatan demi terselenggaranya suatu rencana yang berjalan dengan baik. Hal ini dilakukan agar dapat memahami perilaku anggota masyarakat dalam pembangunan wilayah maupun pola migrasi yang ada.
7. Prinsip Teknis, suatu prinsip yang menyangkut upaya untuk mengoptimalkan penggunaan ruang suatu wilayah dengan cara mengkaji terlebih dahulu suatu wilayah tersebut serta penyimpangan-penyimpangan yang terjadi.
8. Prinsip Wilayah, suatu prinsip yang menyangkut aspek administrasi, keuangan, hukum, kelembagaan/organisasi serta perundang-undangan yang diharapkan agar suatu perencanaan dapat diterapkan melalui koordinasi antar instansi didaerah dalam pelaksanaan dan pengendaliannya.

Beberapa pendekatan yang digunakan dalam penyelesaian pekerjaan ini, diantaranya sebagai berikut:
1. Pendekatan Gabungan Teoritikal-Legalitas-Empiris
2. Pengekatan Gabungan Kualitatif-Kuantitatif
3. Pendekatan Benchmarking dalam pengembangan Komoditas Unggulan
4. Pendekatan Sistem dalam penyelesaian persoalan
5. Pendekatan Komprehensif


Pendekatan Gabungan Teoritikal-Legalitas-Empiris

Dalam pelaksanaan penyelesaian pekerjaan ini ditempuh pendekatan gabungan, yang menggabungkan antara pendekatan teoritikal, pendekatan legalitas, dan pendekatan empiris. Apabila dalam pendekatan teoritikal lebih banyak memandang persoalan yang hendak diselesaikan dengan sudut pandang teori, sebaliknya dalam pendekatan empiris lebih banyak melihat dari sudut pandang kejadian empiris yang terjadi di realitas yang harus diselesaikan. Pendekatan legalitas lebih melihat pada sudut pandang aspek legal/normatif pada penyelesaian setiap persoalan yang hendak dipecahkan. Tetapi dalam penyelesaian pekerjaan ini tidak dipilih salah satu pendekatan saja, tetapi menggabungkan ketiga pendekatan tersebut untuk saling melengkapi sehingga didapat penyelesaian persoalan yang terbaik / paling optimal.
Pendekatan legalitas pada dasarnya adalah mengakomodasikan semua legalitas yang sudah pernah dibuat dan berlaku untuk menjadi pedoman pada pengembangan selanjutnya. Yang menjadi pedoman tentu merupakan legalitas yang tingkatan kekuatan hukumnya lebih tinggi. Apabila ada perbedaan diantara legalitas yang ada, akan dipakai ketentuan yang ada pada ketetapan legalitas yang lebih tinggi. Sedangkan apabila legalitas lebih rinci berbeda dengan apa yang akan dikembangkan, dapat diabaikan dan dapat dibuat ketentuan transisi untuk mengakomodasikan adanya perbedaan tersebut agar tidak menimbulkan kerugian bagi pihak-pihak tertentu yang menjadi obyek bagi legalitas yang lebih rinci tersebut pada waktu sebelumnya. Karena yang dipakai dasar dalam pendekatan ini adalah aspek legalitas, maka urutan tingkat kekuatan hukum yang digunakan juga mengikuti ketentuan legal yang ada. Dalam kaitannya dengan penyusunan rencana pengembangan infrastruktur pendukung industri di wilayah kajian, pendekatan ini digunakan agar apa yang akan dilakukan/direncanakan tidak melanggar ketentuan yang lebih tinggi yang sudah ada, dan dapat mengakomodasikan ketentuan transisi jika diperlukan karena kebijakan detail sebelumnya. Oleh karena itu kebijakan mulai dari Undang-Undang, Peraturan Pemerintah (PP), Pengganti Undang-Undang, PP, Peraturan Presiden, Keputusan Presiden, Peraturan Menteri, Keputusan Menteri, Peraturan Daerah, Peraturan Gubernur/Bupati, maupun Keputusan Gubernur/Bupati yang terkait dengan pengembangan infrastruktur pendukung di wilayah kajian akan diperhatikan dan diakomodasikan dalam rencana pengembangan berikutnya.
Pada pendekatan teoritikal, teori yang menjelaskan secara lebih detail / spesifik memiliki kekuatan untuk diacu paling tinggi. Sedangkan teori yang lebih umum (memiliki keterkaitan yang relatif agak jauh dari fenomena yang dipecahkan), akan memiliki kekuatan untuk diacu lebih lemah.
Pada pendekatan empiris, persoalan-persoalan yang sudah jelas-jelas menimbulkan masalah dan banyak praktek terjadi, akan menempati posisi tertinggi untuk diselesaikan. Sedangkan persoalan-persoalan yang berlum tentu terjadi relatif dapat diabaikan. Tetapi persoalan yang belum pernah terjadi tetapi dari aspek struktural sudah dapat dipastikan akan menjadi masalah dalam praktek pelaksanaan di lapangan, perlu tetap diperhatikan dalam penyelesaian persoalan atau penetapan kebijakan atau pengembangan sistem.


Pengekatan Gabungan Kualitatif-Kuantitatif

Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang lebih mementingkan aspek kedetailan informasi pada suatu fenomena daripada distribusi kejadian pada suatu populasi. Pendekatan ini lebih melihat pentingnya informasi yang dapat menggambarkan aspek kualitas yang terjadi pada fenomena yang dipelajari dan dipecahkan, daripada prosentasi / frekuensi kejadian. Oleh karena itu teknik sampling dalam pendekatan kualitatif tidak terlalu penting. Sedangkan pendekatan kuantitatif dalam menggambarkan dan memecahkan fenomena, lebih memandang pada frekuensi / distribusi kejadian dalam suatu populasi untuk dapat mewakili kejadian dalam populasi. Oleh karena itu teknik sampling dalam pemakaian pendekatan ini menjadi penting, agar sampling yang diteliti dapat menggambarkan perilaku / kejadian dalam populasi.
Pendekatan kualitatif dilakukan untuk lebih memahami fenomena secara lebih spesifik, lebih kaya informasi, sampai dapat menemukan anomali-anomali yang terjadi dalam populasi/sistem. Oleh karenanya pendekatan kualitatif ini seringkali dilakukan pada penelitian-penelitian deduktif yang bersifat pembuktian teori yang sudah pernah dirumuskan. Sedangkan pendekatan kuantatif karena sifatnya lebih untuk dapat menggeneralisir kejadian/ perilaku dalam populasi, maka sample yang tepat akan mempengaruhi penggeneralisiran populasi dari sample. Oleh karena itu pendekatan ini banyak digunakan pada penelitian yang bersifat induktif, yang menggeneralisir perilaku/kejadian dalam sample menjadi perilaku/kejadian dalam populasi.
Dalam penyelesaian pekerjaan ini, dipakai kedua pendekatan secara komplementatif, dimana pendekatan kuantitatif dipakai untuk dapat melihat perilaku dalam sistem/populasi yang paling banyak dan yang paling sedikit/kecil. Tetapi disamping itu dilengkapi dengan pendekatan kualitatif yang dapat mengekplorasi kejadian/perilaku kecil yang tersembunyi yang selama ini terjadi tidak/kurang terperhatikan sehingga tidak dapat ditangkap dalam pendekatan kuantitatif. Pendekatan kualtitatif banyak dilakukan dengan metode: wawancara dan Fokus Group Discussion, sedangkan pendekatan kualitatif dilakukan dengan metode penyebaran kuesioner.


Pendekatan ”Benchmarking”

Pada pendekatan ini, akan melakukan pembelajaran atas apa yang sudah dilakukan oleh pihak lain/di lokasi lainnya untuk diterapkan dengan perbaikan/penyempurnaan berdasarkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh pihak lain yang sudah lebih dulu melakukan hal yang serupa. Pendekatan Benchmarking ini banyak dilakukan oleh para peneliti dan perancang teknologi di Jepang dalam membuat produk teknologinya. Bahkan seringkali Benchmarking ini dilakukan dengan melakukan ’delivery time’ atas produk hasil benchmarking tersebut lebih cepat daripada produk basis benchmarking. Pendekatan ini menurut bahasa orang awam dinamakan dengan ’Pencontekan Cerdas’.
Pada pendekatan ini perlu dilakukan pengamatan atau investigasi atas apa yang sudah dilakukan oleh pihak lain untuk hal yang serupa. Dalam hal ini apa yang sudah dilakukan pihak lain dalam konservasi energi baik di dalam negeri maupun di luar negeri perlu dilakukan sebagai basis dalam melakukan benchmarking. Bahkan apa yang sudah dilakukan di luar negeri juga dapat dijadikan sebagai basis benchmarking.

C. Metodologi

Pariwisata Brebes

Pengembangan Pariwisata
Di Kabupaten Brebes

Latar Belakang

Brebes terkenal sebagai daerah penghasil bawang merah, cabe dan telur asin. Sejauh ini perkembangan kabupaten Brebes di beberapa kecamtan pasca Otonomi daerah memang belum terlihat sisginfikan. Sumber-sumber ekonomi masih pada komoditi pertanian, sementara komoditi lain seperti peternakan, perikanan, dan industri pengolahan hasil pertasnian belum banyak tersentuh. Sementara masalah kependudukan mulai muncul, seperti berkurangnya lahan-lahan pertanian karena berubah menjadi pemukiman. Sebagian masyarakat mulai berdagang, walaupun masih pada komoditas pertanian dan pendukungnya.

Kondisi ini tentunya harus disikapi oleh pemerintah daerah dengan langkah-langkah yang strategi. Berkurangnya lahan pertanian tentunya berkurang juga jumlah petani yang bertani, mereka harus dialihkan pekerjaannya pada-bidang-bidang yang tidak berorientasi pada lahan.

Sebenarnya ada beberapa pengembangan yang bisa dilakukan, sebagai contoh peternakan, perikanan dan pengolahan hasil pertanian. Kesulitan-kesulitan pada peternakan dan perikanan lebih pada modal awal yang tinggi, sementara untuk industri hasil pertanian terkendala pada masalah pemasaran dan distribusi. Kesulitan-kesulitan inilah yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah untuk memecahkannnya.


Pariwisata Sebagai Alternatif Meningkatkan Perekonomian Daerah

Bidang lain yang bisa dikembangkan adalah pariwisata. Selama ini pariwisata di Kabupaten Brebes seperti Waduk Penjalin, Telaga Ranjeng dan Kaligua belum maksimal pengelolaannya, atau bahkan cenderung tidak dikelola, sehingga tempat-tempat tersebut ramai dikunjungi masyarakat pada saat lebaran saja, sementara hari-hari biasa sepi pengunjung.

Pengembangan Pariwisata disekitar wilayah Brebes pun saat ini masih kurang, walaupun ada seperti Baturaden di Banyumas, Pemandian Air Panas “Guci” di Tegal, Goa Lawa di Pemalang dan beberapa Wisata Pantai di daerah Pantura, pengembangannya masih parsial., jadi hanya ada satu atau dua tujuan wisata didaearah yang berdekatan.

Dari kondisi ini dapat dicermati bahwa ada peluang pengembangan Pariwisata di Kabupaten Brebes.

Anggapan bahwa investasi pada Pariwisata lebih pada tiket masuk yang terjual, dan akan kembali nilai investasinya pada tahun kesekian puluh, harus dirubah. Pembangunan ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Anggap saja ada investasi untuk pariwisata yang lumayan mahal, karena harus membuat jalan baru, merevitalisasi objek-objek wisata, dll, tetapi akan ada dinamisasi perkembangan masyarakat terutama tentang lapangan kerja dan peluang usaha baru.


Penataan Pariwisata

Penataan kawasan pariwisata juga harus mempertimbangkan aspek lokasi. Karena sulit untuk menarik pelancong yang datang jauh-jauh dari jakarta atau dari daerah lain hanya untuk satu tujuan tempat wisata. Minimal ada 3 sampai 4 tempat yang berdekatan, sebagai contoh Waduk Penjalin, Cipanans Buaran, Telaga Ranjeng dan Kebun Teh Kaligua. Jangka panjangnya dapat di tarik sebuah jalur wisata baru ke arah Sirampog seperti “Curug Puteri” dan yang mau berpetualang lebih berani kearah Kaki gunung Slamet ada “Sumur Penganten”. Terdapat juga panorama pertanian, yaitu pertanian sayur mayur di Desa Dawuhan, Batursari, Igirklanceng, Sawangan sampai Kaligua dan Kalikidang. Sementara Sebagian Desa Sridadi, Kaligiri dan wilayah kecamatan Sirampog kearah lembah rata-rata petani Padi, ladang dan kebun. Pelancong akan mengalami perubahan suhu yang drastis karena perbedaan elevasi yang ekstrim dari daerah lembah yaitu Bumiayu naik sampai kaki gunung Slamet.

Menarik Bukan??

Ditambah lagi wisata belanja di Pasar Bumiayu yang menyediakan Telor Asin, Bawang merah, Cabe, dll. Cukup pegal-pegal untuk ditempuh satu hari. Oleh karena itu lah akan ada waktu lebih panjang untuk berlibur, tidak cukup satu hari ya diperpanjang lah liburannya menjadi 2 hari.

Coba kita lihat dari satu sisi ini, ada semacam cincin usaha baru. Jika start dari Kaligadung, terus naik ke Sirampog (Curug Puteri dan Sumur Penganten), dilanjutkan ke Kaligua dan Telaga Ranjeng, turun ke Waduk Penjalin, terus ke Cipanas Buaran, setelah melepas pegal-pegal di Cipanas Terus Belanja kepasar Bumiayu, sekalian pulang mampir dulu beli duren di Galuhtimur dan Kalijurang yang ada di Kecamatan Tonjong. (Perfect).

Akan ada peluang-peluang baru, usaha-usaha baru seperti warung-warung, tempat penginapan, penjualan souvenir, dll. Jika dikonversikan akan ada ratusan lapangan kerja baru.


Mawas diri

Apa yang saya uraikan diatas sifatnya masih “idealnya”, masih banyak yang harus dibenahi terutama jalan masuk, penataan kawasan, pemasangan rambu, arah, dll. Dan biaya yang diperlukanpun tentunya besar, sehingga perlu pentahapan dari study kawasan exsisting, study kelayakan, pembuatan master plan dan perencanaan fisik. Walaupun Kabupaten Brebes sudah memiliki penataan ruang tiap-tiap kawasan, pengembangan pariwisata tidak akan banyak merubah struktur ruang yang ada. Orisinilitas kawasan wisata harus dipertahankan sebagai daya tarik tersendiri dengan konsep wisata alam.


Review Rencana Pembangunan Jangka Menengah daerah (RPJMD)

Apabila melihat visi RPJMD tahun 2008-2013 yaitu membangun masyarakat yang maju, sejahtera dan berkeadilan dan misi RPJMD tahun 2008-2013 mewujudkan penataan ruang yang berkelanjutan dengan tetap memperhatikan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup secara bertanggung jawab, tentu sudah jelas bahwa visi misi pembangunan adalah untuk mensejahterakan rakyat. Akan tetapi apabila dilihat dari program-program yang direncanakan lima tahun kedepan masih berkutik pada internal organisasi pemerintah daerah, penataan kearsipan, dan program-program yang “rentan dikorupsi”. Sementara program-program strategis yang berorientasi pada masyarakat pedesaan belum banyak tersentuh, seperti peternakan, pengolahan hasil pertanian, Koperasi, dll. Mungkin karena para anggota Dewan dan Pejabat daerah mayoritas bukan dari desa. Bahkan kalau kita lihat lebih jauh anggaran untuk penertiban administrasi pertanahan dan pemanfaatan potensi sumber daya hutan angkanya terlalu fantastis, hampir 72 persen dari total anggaran RPJMD. Padahal sektor-sektor tersebut, selama ini hanya dinikmati oleh sebagaian kecil masyarakat “yang sudah kaya”. Dan yang menarik lagi pendidikan belum masuk dalam “sesuatu yang perlu diprogramkan”. Di Kabupaten lain sudah merancang pendidikan gratis dan sebagian sudah merealisasikannya seperti Kota Mojokerto, Surabaya dan Malang, pemerintah Kabupaten Brebes tampaknya masih tenang-tenang saja.

Alasan yang sering diungkapkan adalah PAD yang kecil. Tentu saja hal ini akan berlangsung terus menerus apabila program-program yang direncanakan belum tepat sasaran. Tentunya harus ada koordinasi yang baik antara pemda dan masyarakat. Apa yang dimau dan diperlukan masyarakat itulah yang diutamakan dan selanjutnya diprogramkan. Bukan apa yang dimau dan diperlukan anggota Dewan dan Pemda.

Sebagai bagian dari masyarakat, apa yang saya sampaiakn ini semata-mata dalam rangka saling mengingatkan dan nasehat-menasehati. Tidak ada maksud menggurui atau merasa paling benar. Data dan redaksional bisa jadi kurang aktual dan akurat karena keterbatasan akses informasi. Harapannya kedepan kabupaten Brebes ada perubahan yang lebih baik.

Rabu, Maret 11, 2009

Brebes


Kabupaten Brebes masuk dalam wilayah provinsi Jawa Tengah. Membujur dari pantai utara sampai keselatan dikaki gunung Slamet. Secara Topografi Brebes bagian Utara adalah dataran rendah dan bagian Selatan adalah dataran tinggi. Brebes adalah jalur lintas Utara Selatan yang menghubungkan Jalur Pantai Utara dengan Jalur Tengah. Orang Bumiayu menyebutnya "Portugal" atau Lintas Purwokerto Tegal.

Citra Satelit Wilayah Kabupaten Brebes







Berikut adalah Peta yang diterbitkan Departemen Cipta Karya (Peta Hydrologi)

Prigi Beach - Numpak Perahu

Numpak Perahu dipantai Prigi

Berliburan ke Pantai Prigi kurang sempurna rasanya kalo tidak naik perahu ketengah laut "walupun nda nyape tengah-tengah amat". Cukup dengan Rp. 10.000,- tiket sekali naik. Kita akan dibawa menyusuri pantai Prigi. Jangan lupa bawa media dokumentasi seperti kamera atau Handycam, karena disekitar pantai terdapat pemandangan perbukitan dan pegunungan yang bagus.
Lokasi pantai Prigi adalah di bagian selatan Kabupaten Trenggalek. Bisa ditempuh dari beberapa jalur alternatif. Jika dari Surabaya lama tempuhnya kira-kira 4,5 Jam.


A Man From Trenggalek


Who is he?
Namanya Syaiful Anwar, biasa dipanggil "Iful". Berasal dari daerah Trenggalek Tepatnya di Desa Senden Kecamatan Kampak.
Hobinya membaca koran, melihat acara berita dan berpolitik. Suatu perpaduan yang ideal sesuai dengan cita-citanya yaitu mendirikan LSM yang tentunya "LSM yang perduli dengan kondisi masyarakat saaat ini, terutama masyarakat di daerahnya".


Entri Populer